Beranda, Sepuluh Malam
October 15, 2011
” Dipertiga malam, saat lelapku tak pernah datang. senja yang kemerahan itupun tidak pernah mengabarkan. Seperti sakura yang mati terlewatkan musim, terabaikan.”
Lelah telah menjadi raut mukaku, dan rindu menjadi arah angin masih ingat, saat menangis pertamaku? Mungkin tak kau sadar, aku bertambah tegar, walau tetap seringnya menangis hambar. Aku pasti akan kembali menjadi bunga yang menanti untuk mekar, memastikan kau baik-baik saja seperti sebuah senyuman lebar.
Pada akhirnya, kita pasti bisa menikmati bulan malam bersama, tidak seperti sumpah serapahmu yang mencaci maki isi kepala dan hati. Kita pasti bertemu lagi, aku, pada dirimu sekarang dan kau yang mungkin tidak lagi berharap apa-apa dariku karna lupa dan menua. Lalu kita terus bicara dan kau menertawakan kebodohanku dibelakang. Ya tak apalah aku bodoh saat itu, toh aku melihatmu malam ini dibawah malam dengan bukan isi kepala yang tetap sama.
Ahh.. Ternyata kau bisa juga salah, aku bahagia sekarang, aku menemukan duniaku yang lebih baik dari saat kemarin itu. Aku menyeringai silau di malam ini, karna senjamu. Aku sayang kamu, yang tidak pernah keluar dari bibir ini. Kau juga begitu kan? Kita hanya terlalu egois untuk mengakui. Tak apa. Aku suka aku yang saat ini, karna air mata dan kecewa di masa itu.
….



